Kamis, 17 Mei 2012

Esai Tentang Jakarta 1 (Tahun 2010)

Esai ini pertama kali dipublikasikan pada lomba esai untuk memperingati HUT DKI Jakarta ke-483 (tahun 2010) .Saya cari- cari lagi file-nya, eh, ternyata ketemu. Walaupun BELUM dapat nomor (karena mudah2an tahun ini… Aaamiiin), saya coba posting untuk berbagi ^_^ cekidot..!!!

****

De’ Jakarta Impian
Oleh: Luhtfi Rohayati

“…Nyok kite nonton ondel – ondel, Nyok!, Nyok kite ngarak ondel- ondel, Nyok…”. Bagi Anda yang merasa warga asli Jakarta, tentunya sudah tidak asing lagi dengan lagu tersebut, bukan? Sebuah lagu yang kerap kali mengingatkan kita akan kota metropolitan yang satu ini. Kota yang menjadi saksi bisu hiruk- pikuknya kesibukan warga Jakarta yang seakan tidak pernah terlelap barang sekejap pun. Bahkan, warga yang berdomisili di luar Jakarta pun ada yang menghabiskan sebagian besar harinya di Kota Jakarta. Sebagai ibu kota negara, sangatlah wajar hal ini berlaku pada Jakarta. Daya tarik Kota Jakarta memang sudah terbukti mampu menghipnotis para urban untuk berbondong- bondong datang ke Jakarta. Dari sekedar mencoba mencari keberuntungan, sampai hanya ingin tahu, “Bagaimana sih bentuk dan kemewahan yang ditawarkan Jakarta?”. Begitu banyak daya pikat yang dimiliki Jakarta, namun rasanya ada yang sedikit paradoks ketika  sebagian warga Jakarta justru menilai Jakarta adalah macet, Jakarta adalah polusi, Jakarta adalah banjir – sebuah “kisah” tahunan yang konon ceritanya sampai saat ini pun warga Jakarta masih “terlelap” di dalamnya-, Jakarta adalah kriminal, Jakarta adalah sesuatu yang isinya bisa memperpendek harapan hidup warga Jakarta. Namun, apakah mengumpat dan pesimis akan menyelesaikan masalah? Kita semua pasti rindu akan Jakarta yang bebas macet, Jakarta yang bebas polusi, Jakarta yang bebas banjir, Jakarta yang bebas kriminal, Jakarta yang isinya adalah sesuatu yang bersahabat dan memberikan kenyamanan bagi banyak orang, khususnya warga Jakarta.
            Saya mencoba untuk browsing di internet mengenai Jakarta. Dan saya pun menemukan beberapa artikel yang saya rasa ini akan mengubah citra Kota Jakarta di mata dunia, atau bahkan justru memberikan rasa optimis bagi kita bahwa Jakarta akan menjadi bersahabat dengan penghuninya, tidak sekedar mewah.
            Banjir merupakan salah satu “agenda tahunan’ yang dimiliki Jakarta selain Pekan Raya Jakarta. Ternyata, selama ini Pemda DKI Jakarta sudah bekerja keras untuk mengatasi masalah banjir ini yang khususnya sering melanda warga di daerah Kampung Melayu dan Bantaran Kali Ciliwung. Proyek ini dinamkan Proyek Banjir Kanal Timur yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2012. Kalau proyek ini berhasil, bayangkan jika Anda bisa melihat Kali Ciliwung sejernih air mineral. Walaupun tidak segitunya, setidaknya Jakarta dapat terbebas dari yang namanya banjir. Masa ibu kota negara kebanjiran terus, sih?”.
            Namun, usaha ini pun perlu diimbangi dengan ketersediaannya infrastruktur dasar yang memadai. Misalnya tong sampah. Banjir itu sendiri disebabkan karena sampah yang dibuang secara sembarangan itu bertebaran dimana- mana. Gubernur kita memang senang menghambur- hamburkan uang demi keindahan Jakarta. Lihat saja trotoar- trotoar yang berada di sepanjang jalan Sudirman- Thamrin yang tiap tahun diperbaiki. Atau halte- halte bus yang dibongkar pasang. Sedangkan tong sampah? Apakah ketika Anda memakan pisang, Anda akan terus memegang kulit pisang sejauh 300 meter hanya gara- gara Anda sulit menemukan tong sampah? Menurut hemat saya, tong sampah harus ada setiap 50 meter. Pemda DKI pun tidak usah mengerluarkan biaya untuk penyediaan tong sampah ini. Bahkan, bisa menambah pemasukan daerah. Caranya adalah dengan mengundang pengiklan. Kalau para pengiklan bisa membuat baliho yang terpajang mewah di sepanjang jalan Kota Jakarta, Mengapa mereka tidak mengiklankan produk mereka pada tong sampah yang mereka “hadiahkan” untuk Kota Jakarta? ada banyak keuntungan disini. Selain tersedianya tong sampah dimana pihak Pemda DKI tidak usah mengeluarkan uang, para pengiklan pun tetap bisa mengiklankan produknya dengan wadah yang lebih bermanfaat bagi Jakarta itu sendiri. 
            Satu lagi yang sampai saat ini masih menjadi problematika Kota Jakarta. Ini bukan lagi “agenda tahunan”. Namun, sudah menjadi “agenda harian”. Terutama dirasakan pada pagi dan sore hari. Inilah macet. Yang menjadi satu ciri khas permukaan Kota Jakarta. Sebenarnya, pemerintah sudah berusaha untuk mengatasi masalah yang satu ini. Walaupun belum bisa dihilangkan, minimal dikurangi keberadaanya. Yaitu dengan menciptakan sebuah kendaraan angkutan massal berbahan bakar ramah lingkungan yang sejak awal tahun 2004 sudah terlihat hilir mudik di beberapa ruas jalan di Kota Jakarta. Itulah Bus Trans Jakarta atau yang lebih akrab terdengar dengan sebutan Busway. Busway cukup diminati karena dengan tarif Rp 3500, Anda bisa menunggangi bus berfasilitas AC ini dan mengelilingi Jakarta dengan berpindah dari satu koridor ke koridor lainnya. Apalagi saat ini busway sudah memperluas jaringan koridornya. Sehingga ini pun dapat mempermudah mobilitas warga, khususnya warga Jakarta. Namun, berbicara tentang Jakarta di masa yang akan datang, nantinya Jakarta akan mempunyai MRT (Mass Rapid Transit). Proyek monorail ini termasuk prioritas program lima tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau proyek MRT ini berhasil, wah, bisa dibayangkan tidak kalau Jakarta akan semegah Singapura atau Malaysia? Tentu saja bukan hanya kemegahan, namun asas manfaat yang dapat diambil dengan pengadaaan angkutan massal yang cepat. Namun, pengadaan angkutan massal seperti busway, masih belum terasa signifikan keefektifannya. Buktinya, macet masih menjadi “agenda harian” Kota Jakarta. Hal ini disebabkan karena pemerintah kurang konsisten. Sudah diciptakan angkutan massal yang nyaman, tetapi produksi mobil dan motor tiap tahunnya terus meningkat. Ditambah cara mendapatkannya yang semakin lama semakin mudah. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong bahwa sebagian warga Jakarta masih ada yang senang menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan massal. Mungkin pemerintah bisa menggunakan trik lain. Misalnya dengan membuat jalan yang berbeda bagi angkutan massal, kendaraan pribadi (baik mobil, motor dan sepeda). Sebagai tindakan bahwa pemerintah pro terhadap angkutan massal, maka jika terjadi kerusakan jalan pada jalur kendaraan pribadi kecuali sepeda, mungkin pemerintah bisa “menganaktirikan” hal tersebut ketimbang jalan yang rusak pada jalur angkutan massal, yang harus segera diperbaiki jika terjadi kerusakan.
            Banyak sekali problematika yang melanda Jakarta hari ini. Akan tetapi, Apakah kita hanya bisa mengumpat atas kondisi tanpa melakukan suatu perubahan?. Akankah semua itu terwujud? Hanya dengan niat baik dan semangat kedua pihak, pemerintah dan rakyatnya, kemungkinan cita – cita luhur menanmpakkan wajah baru Kota Jakarta dapat terwujud. Bukankah kita harus tetap optimis menyikapi segala tantangan?.




Luhtfi Rohayati
3315090125
Program Studi Pendidikan Kimia Bilingual 2009
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar